Mengenal Lebih Jauh Minyak Kutus Kutus

Kutus Bayi – Anda tentu telah mengenal atau pernah mendengar produk minyak kutus kutus. Namun tahukan Anda sosok di balik minyak kutus kutus itu?

Adalah Servasius Bambang Pranoto. Lahir di Klaten, Solo pada 13 Mei 1955. Pria ini adalah orang di balik produk minyak kutus kutus yang kini telah dikenal masyarakat luas. Ia adalah penemu ramuan minyak kutus kutus dan pemilik perusahaan PT. Kutus Kutus Herbal yang semula bernama PT. Tamba Waras yang memproduksi minyak kutus kutus.
Ramuan minyak kutus kutus ditemukan Servasius Bambang Pranoto pada tahun 2011, ketika kedua kakinya lumpuh akibat terjatuh di pematang sawah saat memikul kentang seberat 10 kilogram. Meski sudah berobat ke dokter, kedua kakinya tak kunjung sembuh, sehingga ia nyaris putus asa. Inspirasi untuk membuat ramuan dari berbagai tanaman herbal dan rempah-rempahan muncul saat dirinya bermeditasi. Lalu ia membuat minyak balur atau yang kita kenal dengan minyak gosok berdasarkan resep leluhur. Ia menyebut resep leluhur yang digunakannya sebagai konsep pohon kehidupan, yang terdiri atas tujuh unsur tanaman.
Seluruh bahan rempah-rempahan yang jumlahnya 69 tersebut diperolehnya dari bukit di belakang rumahnya di Desa Bona, Gianyar, Bali yang ditempatinya sejak tahun 2002. Ia sudah akrab dengan dunia herbal dan jamu-jamuan sejak tahun 1988, meskipun tidak memiliki keahlian khusus dalam meracik ramuan. Ia kemudia belajar secara otodidak bagaimana cara meracik minyak dengan mengikuti proses pembuatan dari warisan kebudayaan beberapa daerah dan mempelajari penyembuhan tradisional alam.
Racikan minyak yang dibuatnya terbukti berkhasiat mengobati kakinya yang lumpuh sehingga sembuh dalam tiga bulan. Setelah itu ia melakukan riset selama satu tahun, dari tahun 2012 hingga 2013 untuk menemukan racikan minyak balur yang aromanya khas, tidak berbau, dan mudah meresap. Setelah mendapatkan aroma yang pas, ia kemudian memproduksi 500 botol minyak kutus kutus, namun tidak ada satupun yang laku pada saat itu.
Salah satu penyebab minyak kutus kutus tidak laku pada saat itu karena ia menjualnya dalam kemasan 250 ml. Kemudian ia menggantinya dengan kemasan 100 ml. Dari sanalah minyak kutus kutus mulai laku di pasaran.
Pada 8 Desember 2018, Servasius Bambang Parnoto kemudian mendirikan pabrik kutus kutus, melalui perusahaan Tamba Waras. Lokasi pabrik tersebut adalah bekas restoran Mango Lango dan Studio Music Banjar Teratai Capung yang digunakan selama 12 tahun sebelum memproduksi kutus kutus. Pabrik berdiri di atas area lahan seluas 2.800 meter persegi dan tahun 2019 mempekerjakan 200 orang karyawan.
Produk minyak kutus kutus juga telah terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada tahun 2017. Dan pada tahun 2019 lalu Servasius Bambang Pranoto mengembangkan sayapnya ke industri perhotelan, kini ia memiliki 11 villa dan 3 hotel di Bali dan Yogyakarta serta perkebunan seluas 5 hektar pada tahun yang sama. Pada tahun 2020 ia mendirikan Kutus Kutus International BV sekaligus mengakuisisi sebuah kastil di Baambrugge Netherlands sebagai kantor pusat kutus kutus untuk pemasaran di Eropa dan internasional.
Dari kisah Servasius Bambang Pranoto kita dapat belajar bahwa manusia sebagai bagian dari alam pasti memiliki energi, yaitu kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Sepanjang perkembangan bisnisnya tentu bukan hal yang mudah dan jalan yang mulus untuk dilalui. Namun jika kita memiliki integritas dan keyakinan dalam menjalani usaha, pasti akan ada jalan untuk menuju kesuksesan.

Baca Juga: Perawatan Kulit Dengan Herbal Alami

Open chat
Halo, ada yang bisa saya bantu? ( Jam 8 Malam s/d 8 Pagi Slow Respon)